Suatu pameran kecil diadakan di lobi sekolah suatu hari. Pameran itu tidak memerlukan panitia. Tidak ada sponsor untuk acara itu. Tidak memerlukan tempat yang luas. Tidak memerlukan lampu-lampu gemerlap untuk menarik perhatian. Tidak ada juga penjaga-penjaga cantik yang biasa ada di suatu pameran.
Pameran itu terlihat alami. Apa adanya. Pengunjung yang melihat produk di pameran itu tidak dicatat. Mereka bisa datang dan pergi begitu saja. Pengunjung tidak perlu menyampaikan kesan atau bahkan kritik kepada produk itu. Tapi jika ada pengunjung yang bertanya maka ada petugas yang menjelaskannya. Petugas itu adalah murid-murid yang berasal dari sekolah ini.
Mereka baru saja melewati pengalaman belajar. Ada tiga fase dalam pengalaman belajar: memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Fase pertama telah mereka lalui di kelas bersama guru pembimbing. Proses memahami konsepnya tidak memerlukan waktu yang sedikit. Mereka harus membaca dulu dengan intensif. Kemudian merangkumnya. Setelah itu mereka mendiskusikannya bersama teman-teman dan difasilitasi oleh guru.
Memahaminya saja masih belum cukup. Pemahaman itu bisa cepat hilang. Pemahaman itu perlu ditancapkan dalam pikiran mereka. Untuk alasannya itu, mereka perlu mengaplikasikannya. Mereka perlu mempraktikkannya. Produk itu tidak harus memerlukan alat-alat yang mahal. Mereka bisa menggunakan alat-alat pendukung yang ada di sekitar mereka.
Mereka hanya perlu kayu dan kertas. Kayu bisa disiapkan dari kayu yang digunakan untuk es krim. Kayu yang relatif murah dan mudah untuk didapatkan. Kertas juga mudah untuk didapatkan. Alat lain yang diperlukan gunting dan lem. Dengan peralatan dan bahan itu, mereka mengaplikasikan suatu konsep.
Konsep keseimbangan.
Konsep ini umumnya bisa digambarkan seperti timbangan. Keseimbangan sebatang kayu yang digantung dengan seutas tali. Tali diikatkan di bagian tengah kayu tersebut. Beban dan jarak kayu di masing-masing sisi kayu itu harus sama agar keduanya seimbang.
Tapi murid-murid itu bisa menunjukkan suatu karya yang seperti "menantang" prinsip itu. Mereka membuat miniatur pesawat terbang. Pesawat itu diletakkan di atas sebatang kayu yang vertikal. Pesawat tidak diletakkan di ujung kayu pada bagian tengahnya. Bagian ujung paling belakang pesawat itu diletakkan di ujung kayu yang vertikal itu.
Bagian belakang pesawat dan ujung kayu vertikal itu tidak dilem. Pesawat itu hanya ditumpangkan di ujung kayu itu. Tetapi anehnya pesawat itu tidak jatuh. Pesawat itu tetap berada di tempatnya. Seakan-akan dia terbang.
Keanehan itulah yang mereka tunjukkan di lobi. Mereka bangga dengan praktik itu. Dengan konsep yang mereka pahami, mereka bisa menunjukkan buktinya. Bukti yang membanggakan mereka. Itu hasil karya mereka. Karya yang layak dipamerkan kepada orang lain. Karya yang tidak dimaksudkan untuk menyombongkan diri.(aa)
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Alhamdulillahi robbil alamin kami panjatkan kehadlirat Allah SWT, bahwasannya dengan rahmat dan karunia-Nya lah akhirnya Website sekolah…
Copyright © 2017 - 2026 SMA Negeri 8 Balikpapan All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id