SMA Negeri 8 Balikpapan

Jl. AMD Gunung Empat RT. 14

Unggul, Asri, dan Kreatif

Lebih Mudah

Kamis, 04 Desember 2025 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 143 Kali

Diam tidak berarti menarik diri. Saat duduk berkelompok ada saatnya Murid-murid ini berbicara. Ada saatnya mereka diam. Pada saat berbicara mereka menuangkan pikiran-pikiran. Mereka membahasnya. Pada saat yang lain ada anggota kelompok yang menulis atau sedang memikirkan sesuatu. 

Itu adalah proses internalisasi ide-ide yang telah diungkapkannya. Pada saat itu juga dasar-dasar berpikir dicari. Rujukan secara daring atau buku-buku cetak yang ada di dekat mereka dijadikan dasar. Kemudian dengan referensi-referensi tadi mereka  menggabungkan dengan pemikiran-pemikiran mereka. 

Mereka kemudian menganalisis apakah sumber-sumber tadi ada yang sesuai dan menguatkan ide-ide sebelumnya. Mereka berpikir melalui kelompok. 

Model pembelajaran berkelompok bisa menghindarkan seorang guru dari mendominasi kelas. Guru itu bisa mendominasi informasi. Mendominasi ilmu. Padahal Murid-murid itu juga memiliki potensi ilmu. Potensi pemikiran. Potensi analisis. Pada saat belajar itulah potensi-potensi itu perlu difasilitasi. Perlu dikembangkan. 

Itu juga menghindarkan dari pembelajaran yang tidak ada proses belajarnya. Yang tidak ada proses berpikirnya. Yang tidak ada maknanya. Dan bahkan hal itu jauh dari kata bahagia. Pembelajaran yang jauh dari kata bermakna. Proses pembelajaran tidak selalu bermakna apabila pembelajaran itu tidak memberikan ruang bagi murid-murid untuk mengembangkan pikiran. 

Rencana pembelajaran bermakna dan menggembirakan perlu dirancang sedemikian rupa. Tujuannya agar proses belajar tidak berarti menghabiskan materi pelajaran yang ada di buku mata pelajaran. Di buku itu ada panduan yang sudah baku untuk dijadikan landasan berpikir. Tetapi berpikir itu sendiri tidak ada pola bakunya. Tantangan hidup tidak ada pola bakunya. Tantangan-tantangan itu ada dengan sendirinya. Tanpa bisa dipesan. Tanpa bisa diatur. 

Seperti halnya hujan hanya bisa diprediksi. Tetapi hujan turun tidak pasti. Apa lagi kalau ada musibah-musibah yang terkait dengan hujan. Seperti banjir, longsor, dan seterusnya. 

Semua tantangan-tantangan itu terjadi begitu saja meskipun sudah diantisipasi agar musibah itu tidak terjadi. Itulah pentingnya belajar berpikir. Belajar mengatasi masalah. Belajar menyikapi masalah. Belajar menyambut masalah. Tidak bisa dihindari. Tetapi masalah harus dihadapi. 

Ketika masalah-masalah itu sudah bisa diatasi maka kepuasan akan datang. Itulah yang disebut dengan pembelajaran yang menggembirakan. Pembelajaran yang memecahkan suatu masalah. Pembelajaran yang sesuai dengan Al Quran, Surah Asy Syarh 94, Ayat 5 dan 6: di balik kesulitan ada kemudahan, di balik kesulitan ada kemudahan. Allah mengulang dua kali Ayat-ayat itu untuk menekankan bahwa kebahagiaan itu diperoleh setelah melewati atau menyelesaikan kesulitan.

Murid-murid dalam kelompok itu sedang belajar berpikir. Suatu masalah mungkin bisa diatasi oleh seorang Murid sendiri. Tetapi dengan berkolaborasi bersama teman-teman lain, solusinya akan lebih mudah didapatkan.(aa)

  1. TULISAN TERKAIT