Tidak hanya sekali. Beberapa kali. Berturut-turut. Selalu. Konsisten. Yang pertama. Tidak hanya berjanji. Dengan bukti nyata. Tanpa menunggu yang lain. Tidak peduli sendiri. Tanpa banyak bertanya. Dilakukan saja. Memang begitu seharusnya.
Waktu yang tersedia 15 menit. Dalam jangka waktu itu lebih dari 800 orang murid dan 50 orang guru serta tenaga pendidikan harus dalam keadaan siap di lapangan upacara. Itu dijadwalkan setiap Senin pagi. Dalam satu semester umumnya ada 18 hari Senin. Jumlah itu merupakan jumlah maksimal jika tidak ada hari libur di hari Senin atau saat bulan Ramadhan.
Prestasi persiapan upacara bisa dilihat dari waktu persiapannya. Jika waktu yang diperlukan lebih dari 15 menit, prestasi persiapan itu belum ideal. Tetapi jika waktu yang diperlukan untuk persiapan kurang dari 15 menit, itu merupakan waktu ideal. Itu merupakan prestasi. Prestasi yang tidak perlu sertifikat penghargaan. Tetapi itu adalah prestasi kolektif yang tidak gampang untuk dicapai.
Itu merupakan prestasi yang kebanyakan orang tidak menganggapnya sebagai prestasi. Ada yang menganggap bahwa pemanfaatan waktu 15 menit itu biasa saja bahkan tidak penting. Karena anggapan itu, ada sejumlah peserta upacara yang tidak segera pergi menuju lapangan upacara. Mereka masih tampak duduk-duduk di dalam kelas atau di teras kelas.
Padahal waktu terus berjalan. Waktu 15 menit terus berkurang. Tidak ada waktu tambahan untuk itu. Jika waktu yang dijadwalkan melebihi 15 menit, itu berarti mengurangi waktu untuk pelaksanaan upacara. Dan jika itu menjadi kebiasaan, maka abai terhadap pemanfaatan waktu akan menjadi budaya.
Untuk memastikan seluruh peserta siap di lapangan upacara sebelum 15 menit, berbagai upaya dilakukan. Melalui pengeras suara, ada himbauan agar peserta upacara segera menuju lapangan. Itu diulang-ulang. Kadang-kadang intonasi himbauan itu semakin meninggi. Itu dilakukan agar suara yang sudah keras itu bisa semakin nyaring dan didengarkan.
Tetapi ada seorang murid yang tidak memerlukan himbauan itu. Tidak perlu diberitahu. Dengan kesadaran sendir,i dia sudah mengambil posisi di menit pertama dari 15 menit itu. Dia sudah siap dan berdiri tegak di lapangan upacara. Dia sendiri saja. Dia berbaris sendiri di lapangan upacara. Dia tidak peduli bahwa dia terlihat aneh. Sebenarnya yang aneh itu adalah mereka yang belum berada di lapangan upacara. Dia konsisten melakukan itu. Setiap hari Senin selalu yang pertama berada di lapangan upacara.(aa)
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Alhamdulillahi robbil alamin kami panjatkan kehadlirat Allah SWT, bahwasannya dengan rahmat dan karunia-Nya lah akhirnya Website sekolah…
Copyright © 2017 - 2026 SMA Negeri 8 Balikpapan All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id