SMA Negeri 8 Balikpapan

Jl. AMD Gunung Empat RT. 14

Unggul, Asri, dan Kreatif

Kekayaan Intelektual

Minggu, 23 Maret 2025 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 447 Kali

Duduk di bangku lobi sekolah, seorang Peserta Didik (PD) tampak sedang menikmati pembelajaran. Saat itu sudah sore. Menjelang pukul 16.00. Tidak ada pembelajaran formal. Tetapi, sejumlah PD masih ada di lobi sekolah untuk melakukan suatu kegiatan amal. Suasana sore itu masih terasa “hidup”.

Satu orang PD yang duduk di sisi lain lobi melakukan kegiatan yang berbeda. Tidak ada kaitannya dengan kegiatan amal. Pakaiannya juga berbeda. Tidak memakai pakaian “kebesaran” yang dipakai kebanyakan PD yang ada di lobi. Dia tampil beda. Dia juga mengerjakan hal yang berbeda juga.

Dia duduk dengan tenang. Sambil menyandarkan punggungnya di sebuah bangku panjang, dia menunduk. Memperhatikan telepon seluler (ponsel) di tangan kiri, dia memegang pensil dengan tangan kanannya. Di pangkuan pahanya diletakkan sebuah buku polos yang cocok untuk menggambar. 

Dengan pensil itu, dia asyik menggoreskan garis-garis pendek, lengkung, da lurus. Dia tampak tidak mendapatkan kesulitan melakukannya. Dia menyukainya. Dia fokus dengan pensil dan ponselnya. Dia tidak perduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya.

Biasanya, PD zaman sekarang menggunakan ponsel untuk mengerjakan hampir semua pekerjaan. Ponsel selalu menempel di tangan PD. Ponsel bisa juga disebut telepon genggam. Alat itu hampir selalu dalam genggaman. Pekerjaan yang dulu hanya bisa dikerjakan dengan Personal Cimputer (PC), kini hampir semua pekerjaan bisa dikerjakan dengan ponsel. 

Tetapi, PD yang satu ini melakukan kebalikannya. Ponsel hanya digunakan untuk menampilkan gambar. Sebuah gambar karakter dari suatu kartun. Bukan gambar pas foto seorang manusia. Itu gambar seorang karakter yang diciptakan oleh manusia. Gambarnya sesuai dengan selera penggambar awalnya. Gambar itu mewakili pribadi tertentu.

PD itu tidak menggunakan ponsel untuk menggambar. Padahal ponsel memiliki fitur untuk keperluan itu. Dia malah menggunakan pensil dan kertas untuk menggambar. Dia meniru gambar yang ada di ponselnya. Proses menggambarnya seperti “mudah”. Terkesan cepat. Mirip dengan gambar yang ditiru. Skalanya lebih besar. Tetapi tetap proporsional.

Keterampilan menggambar seperti itu tidak banyak dimiliki orang lain. Keterampilan itu bisa dikembangkan menjadi lebih terampil. Seorang guru perlu membimngnya, mengarahkannya, dan melatihnya. Kekayaan intelektualnya pasti bermanfaat bagi masa depannya.(aa)

  1. TULISAN TERKAIT