SMA Negeri 8 Balikpapan

Jl. AMD Gunung Empat RT. 14

Unggul, Asri, dan Kreatif

Bangga Bernegara

Selasa, 06 Mei 2025 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 797 Kali

Awalnya mendung hitam menutupi langit di pagi itu. Hujan belum turun. Rintik-rintik hujan mulai turun. Belum terlalu deras. Belum membasahi baju. Belum membasahi lantai lapangan upacara. 

Waktu upacara bendera masih beberapa menit lagi. Ada kemungkinan upacara bisa dimulai. Ada harapan gerimis akan reda. Tetapi kemungkinan itu semakin tipis. Awan semakin hitam. Rintik-rintik hujan semakin lebat. 

Tidak mungkin upacara dilaksanakan di lapangan.

Gerimis berubah menjadi hujan. Semakin lebat. Guntur mulai menyambar. Kilat tiba-tiba terlihat. Keadaan semakin gelap. Kemudian diputuskan upacara tidak dilaksanakan di lapangan. Seluruh Peserta Didik (PD) diminta masuk ke kelas masing-masing.

Upacara tetap dilaksanakan dengan adaptasi cuaca. Dengan cara minimalis. Tetapi maknanya tetap dipertahankan. 

Saat hujan mulai lebat, petugas pengibar bendera melaksanakan tugas. Dengan cara minimalis pula, ketiga petugas segera memasang bendera di talinya. Bendera dikibarkan. Tali mulai ditarik ke atas. Tidak tergesa-gesa. Biasa saja. Seperti tidak hujan. Seperti keadaan normal.

Mereka tidak peduli dengan air hujan yang mulai membasahi baju mereka. Tali bendera terus ditarik ke atas dengan ritme seakan-akan lagu Kebangsaan Indonesia Raya mengiringi mereka. Padahal tidak ada siapa-siapa di lapangan selain mereka bertiga. 

Tidak ada yang memerintahkan mereka melakukan pengibaran bendera. Itu merupakan jiwa mereka. Karakter mereka. Dari suara hati mereka sendiri. 

PD yang lain berada di dalam kelas. Wali kelas mendampingi kelas binaan masing-masing. Guru-guru berada di dalam ruang guru. Suasana sepi.

Bendera Merah Putih sampai di puncak tiang bendera dengan gagah. Air hujan menjadi saksi. Sang Merah Putih terus berkibar walaupun hujan turun. 

Tidak lama kemudian, doa dibacakan. Seluruh PD di kelas-kelas mengaminkan. Amanat upacara juga disampaikan. Pesan disampaikan melalui pengeras suara yang ada di kelas-kelas. Selanjutnya, para wali kelas melanjutkan penyampaian amanat secara klasikal. Semua warga sekolah tetap melaksanakan upacara meskipun hujan. Sebagai bukti mereka bangga dalam bernegara.(aa)

  1. TULISAN TERKAIT