SMA Negeri 8 Balikpapan

Jl. AMD Gunung Empat RT. 14

Unggul, Asri, dan Kreatif

Akademik Fisik

Sabtu, 31 Mei 2025 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 635 Kali

Duduk santai di teras kelas yang sudah sepi, Peserta Didik (PD) ini seperti merayakan sesuatu secara senyap. Bersama seorang teman, dia terlihat lega pagi itu. Hari itu merupakan hari terakhir penilaian sumatif akhir (PSA) di Semester Genap. Hanya satu mata pelajaran diujikan di hari itu.

Setelah pukul 09.00 rangkaian PSA berakhir kecuali bagi beberapa PD tertentu. Mereka belum bisa mengakhiri PSA karena beberapa hal. Sebagian dari mereka sakit, mengalami alasan teknis, atau memiliki alasan lain. Mereka masih mengulang untuk melaksanakan penilaian hari itu.

Tetapi PD ini sudah merasa “plong” pagi itu. Dia sudah menyelesaikan seluruh PSA dan penilaian lainnya. Tidak ada lagi yang harus dikerjakan terkait penilaian. Dia tidak memiliki “hutang nilai” yang ditagih guru-gurunya. Dia hanya ingin “merayakan” hasil perjuangannya selama ini. 

Dia berjuang untuk meraih cita-cita yang telah direncanakan dengan tekad kuat.

Caranya berjuang berbeda dengan PD yang hidup sebelum zaman internet. Sebelum masa internet, seorang PD mengandalkan buku atau bahan cetakan lainnya. Bisa ditambahkan sumber ilmu dari radio atau televisi. Televisi pun terbatas hanya satu channel, hitam putih, dan tidak tayang 24 jam.

PD yang hidup di zaman internet saat ini memiliki pola berbeda dalam belajar. Mereka tidak lagi mengandalkan buku cetak. Mereka tidak lagi tertarik dengan buku cetak. Ada yang lebih menarik. 

PD ini memiliki cara belajar kekinian dengan memanfaatkan multimedia. Buku saat ini sudah berubah bentuk menjadi perangkat suara dan gambar bergerak. Sering disebut dengan video. 

“Buku video” itu menjadi lebih menarik. Ada gambar bergerak dan suara. Video itu bisa diputar berulang-ulang. Gratis. Mudah mencari tema sesuai keinginan. Selalu ada di genggaman tangan. Di telepon seluler (ponsel). Bisa diakses kapan dan di mana saja.

Dengan cara belajar seperti itu, PD yang masih duduk di Kelas X itu mengaku tidak memiliki nilai 70. Semua nilai di Semester Ganjil lebih dari sama dengan 80. Selain berjuang melalui nilai, dia juga berjuang lewat fisik. Dia yang memiliki tubuh tinggi proporsional itu terus melatih fisiknya secara teratur.

Hanya satu yang belum mahir baginya. Dia belum bisa berenang dengan baik. Dia mengaku baru sekali berlatih renang di sebuah kolam renang berbayar.

Perjuangan akademik dan fisik dia lakukan dengan sadar tanpa ada pemaksaan. Perjuangan itu dilakukan untuk menggapai cita-citanya. Dia memimpikan dia bisa diterima sebagai taruna di Akademi Kepolisian.(aa)

  1. TULISAN TERKAIT