SMA Negeri 8 Balikpapan

Jl. AMD Gunung Empat RT. 14

Unggul, Asri, dan Kreatif

Menggapai Impian

Jum'at, 27 Juni 2025 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 548 Kali

Berbeda dengan yang lain, seorang anak perempuan ini memiliki pengalaman tersendiri dalam hidupnya. Lahir puluhan tahun lalu dan tumbuh tidak jauh dari sungai, anak ini bisa diandalkan Ayahnya. Meskipun memiliki kakak laki-laki, dia dipercaya Ayahnya untuk pekerjaan yang sebenarnya cocok untuk anak laki-laki. 

Anak perempuan ini diminta membantu pekerjaan ayahnya. Ayahnya menjalankan usaha sebagai Agen Premium Minyak dan Solar (APMS). Agen ini memberikan jasa pengisian bahan bakar kapal-kapal yang lalu lalang di sungai itu. Saat itu transportasi melalui air sungai masih menjadi primadona. Jalan antarkota dan antarprovinsi belum tersedia dengan baik. Bahkan sebagian besar jalan masih belum beraspal.

Di usia yang masih belia, dia belajar di sekolah di pagi hari dan bekerja sepulang dari sekolah. Dia mulai bekerja saat dia masih belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di usia semuda itu seharusnya dia belum diberikan tanggung jawab untuk bekerja. Walaupun itu bekerja untuk membantu ayahnya. Pekerjaan itu tergolong berat untuk seorang anak perempuan.

Anak perempuan belasan tahun itu dianggap “sukses” melakukan pekerjaan di APMS. Tugasnya adalah mengisikan solar ke tangki kapal. Prosesnya tidak seperti di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Petugas SPBU menyalurkan bahan bakar ke tangki kendaraan dengan dibantu pompa listrik. Bahan bakar mengalir sendiri ke tangki kendaraan.

Di APMS di pinggir sungai saat itu, listrik tidak ada. Tidak ada pompa listrik.

Anak perempuan sekecil itu menggunakan tenaga tangannya untuk memutar pompa manual. Pipa pomba dimasukkan di lubang drum. Dari pompa itu ada selang yang yang diarahkan ke tangki kapal. Dia harus memutar pompa itu sebanyak solar yang diminta pembeli. 

Tantangannya bukan sekedar itu. Sebagai “pengusaha kecil” sukses, dia juga dijodohkan dengan beberapa calon suami. Perjodohan itu dianggap ayahnya bisa meningkatkan kesuksesan usahanya.

Konsep ayahnya tidak disetujui anaknya.

Wawasan anak pekerja sukses itu bertambah luas saat bekerja. Di sela-sela waktu kerjanya, dia membaca koran-koran nasional. Koran terbitan lama tetapi menjadi baru. Baru bisa dibaca. Koran bekas itu dikirimkan melalui kapal-kapal yang mampir di APMSnya secara berkala.

Dengan cara membaca seperti itu, dia satu-satunya anak perempuan di kampungnya yang berwawasan luas. Dia punya cita-cita.

Cita-citanya hanya satu: keluar dari kampungnya.

Dia ingin belajar setinggi-tingginya.di kota. Dia berhasil melakukannya. Gelar sarjana diraihnya. Mungkin dia satu-satunya  sarjana perempuan di kampungnya saat itu. Pekerjaan sebagai guru dan politisi telah dilaluinya. Hasil pekerjaannya turut membangun daerahnya menjadi saksi keberhasilannya. Kini dia sudah menyelesaikan tugas-tugasnya. Impian sudah menjadi nyata dan berhasil diraihnya. Saatnya dia menikmati masa tua dengan anak cucunya.(aa)

  1. TULISAN TERKAIT